SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
INFORMASI DAN KOMUNIKASI
DALAM PENDIDIKAN
OLEH:
MUH. TAUFIQURRAKHMAN (7216100104)
MUHAMMAD CHAIRAD (7216100107)
NI PUTU DWI SUCITADARTINI (7216100109)
NI PUTU NITA WIJAYANTI (7216100110)
SAHRUL SAMPARADJA (7216100122)
MUH. TAUFIQURRAKHMAN (7216100104)
MUHAMMAD CHAIRAD (7216100107)
NI PUTU DWI SUCITADARTINI (7216100109)
NI PUTU NITA WIJAYANTI (7216100110)
SAHRUL SAMPARADJA (7216100122)
A. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information and Communication Technologies (ICT), TIK adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi.[1] TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan, teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Karena itu, penguasaan TIK berarti kemampuan memahami dan menggunakan alat TIK secara umum termasuk komputer (Komputer literate) dan memahami informasi (Information literate).
Kementerian Negara Riset dan Teknologi mendefinisikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum adalah semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi.[2] Teknologi yang dimaksud termasuk komputer, internet, teknologi penyiaran (radio dan televisi), dan telepon. UNESCO (2004) mendefenisikan bahwa TIK adalah teknologi yang digunakan untuk berkomunikasi dan menciptakan, mengelola dan mendistribusikan informasi.[3] Definisi umum TIK adalah komputer, internet, telepon, televise, radio, dan peralatan audiovisual.
B. Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Bidang Pendidikan
Ada beberapa tonggak perkembangan teknologi yang secara nyata memberi sumbangan terhadap perkembangan TIK hingga saat ini. Pertama yaitu temuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian berkembang menjadi pengadaan jaringan komunikasi dengan kabel yang meliputi seluruh daratan Amerika, bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik. Jaringan telepon ini merupakan infrastruktur masif pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun 1910-1920, terwujud sebuah transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang pertama. Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang pesat. Kemudian diikuti pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran televisi pada tahun 1940-an. Komputer elektronik pertama beroperasi pada tahun 1943. Lalu diikuti oleh tahapan miniaturisasi komponen elektronik melalui penemuan transistor pada tahun 1947 dan rangkaian terpadu (integrated electronics) pada tahun 1957.
Perkembangan teknologi elektronika, yang merupakan cikal bakal TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era Perang Dingin. Persaingan IPTEK antara blok Barat (Amerika Serikat) dan blok Timur (dulu Uni Soviet) justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya miniaturisasi rangkaian elektronik untuk pengendali pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang. Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang menjadi ‘otak’ perangkat keras komputer dan terus berevolusi sampai saat ini. Perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat teknologi digital mulai digunakan menggantikan teknologi analog. Teknologi analog mulai terasa menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya. Digitalisasi perangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer yang sejak awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital. Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk telepon seluler. Di atas infrastruktur telekomunikasi dan komputasi ini kandungan isi (content) berupa multimedia mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia inilah yang menjadi ciri abad ke-21, sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi industri. Bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti ‘otot’ manusia, maka revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) ‘otak’ manusia.
Sejarah perkembangan dan pemanfaatan TIK dalam pendidikan, khususnya dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perkembangan perangkat keras TIK, khususnya komputer. Teemu Leinonen (2005) membagi perkembangan tersebut kedalam 5 fase sebagaimana dilustrasikan pada gambar berikut[4]:

1. Fase pertama (akhir 1970an – awal 1980an) adalah fase programming, drill and practice. Fase ini ditandai dengan penggunaan perangkat lunak komputer yang menyajikan latihan-latihan praktis dan singkat, khususnya untuk mata pelajaran matematika dan bahasa. Latihan-latihan ini hanya dapat menstimulasi memori jangka pendek.
2. Fase kedua (akhir 1980an – awal 1990an) adalah fase komputer based training (CBT) with multimedia (latihan berbasis komputer dengan multimedia). Fase ini adalah era keemasan CD-ROM dan komputer multimedia. Penggunaan CD-ROM dan komputer multimedia ini diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap proses pembelajaran, karena kemampuannya menyajikan kombinasi teks, gambar, animasi, dan video. Konsep pedagogis yang mendasari kombinasi kemampuan ini adalah bahwa manusia memiliki perbedaan. Sebagian bisa belajar dengan baik apabila mempergunakan indra penglihatan, seperti menonton film/animasi, sebagian lainnya mungkin lebih baik apabila mendengarkan atau membaca.
3. Fase ketiga (awal 1990an) adalah fase Internet-based training (IBT) (latihan berbasis internet. Pada fase ini, internet digunakan sebagai media pembelajaran. Hanya saja, pada saat itu, masih terbatas pada penyajian teks dan gambar. Penggunaan animasi, video dan audio masih sebatas ujicoba, sehingga dirasakan pemanfaatannya belum maksimal untuk dapat menfasilitasi pembelajaran.
4. Fase keempat (akhir 1990an – awal 2000an) adalah fase e-learning yang merupakan fase kematangan pembelajaran berbasis internet. Sejak itu situs web yang menawarkan e-learning semakin bertambah, baik berupa tawaran kursus dalam bentuk e-learning maupun paket LMS (learning management system). Bahkan saat ini sudah cukup banyak paket seperti itu ditawarkan secara gratis dalam bentuk open source. Konsep pedagogik yang mendasari adalah bahwa pembelajaran membutuhkan interaksi sosial antara siswa dan siswa dan antara siswa dan guru. Dengan perangkat lunak LMS, siswa dapat bertanya kepada temannya atau kepada guru apabila dia tidak memahami materi yang telah dibacanya.
5. Fase kelima (akhir 2000) adalah fase social software + free and open content. Fase ini ditandai dengan banyak bermunculannya perangkat lunak pembelajaran dan konten pembelajaran gratis yang mudah diakses baik oleh guru maupun siswa, yang selanjutnya dapat diedit dan dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan. Konsep pedagogik yang mendasari fase ini adalah teori kontstruktivis sosial. Dalam konteks ini, pembelajaran melalui komputer terjadi tidak hanya menerima materi dari internet saja misalnya, tapi dimungkinkan dengan membagi gagasan dan pendapat.
Dalam sejarah perkembangan Teknologi informasi khususnya dalam bidang pendidikan sendiri, kita telah banyak menemukan saat ini televisi maupun radio yang menunjang kemajuan pendidikan terutama di Indonesia, yang mana sarana tersebut merupakan sarana untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat dimanapun mereka berada.[5] Namun pada kenyataannya, hal ini juga kurang strategis karena baik televisi maupun radio, merupakan sarana informasi yang bersifat searah saja. Dengan adanya komputer, maka informasi dapat disajikan dalam bentuk apa saja, bisa berupa teks, image, video, sound, dan sebagainya. Kemudian kita bisa belajar melalui internet, yang mana dengan internet kita dapat belajar tanpa adanya batasan tempat maupun waktu, yang mana belajar lebih bersifat realtime. Hal yang menarik adalah kita bisa belajar dengan menggunakan video conference kita bisa memanfaatkannya selama kita masih terhubung dengan jaringan, dan yang lebih menyenangkan yaitu kita bisa belajar setiap waktu tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Banyak hal lainya yang ditawarkan dalam perkembangan teknologinya lainnya yang mempermudah kita adalam memperkaya ilmu dan pengatahuan, contohnya saja jika kita tidak mampu membeli buku, maka dengan internet orang bisa melakukan sharing e-book, kemudian kita bisa juga berbagi audio, video lainnya, bahkan yang lebih seru lagi adalah kita bisa membaca koran via online, adalagi istilah E-Zine, yang mana ini merupakan e-magazine. Mungkin untuk ide yang lebih seru lagi untuk bidang perkembangan teknologi informasi komputer yang sangat memukau adalah e-laboratorium, yang mana dalam perkembangan IT saat ini e-laboratorium ini sudah ada namun, penggunaannya sangat minim sekali.
E-laboratory, merupakan bentuk digital dari fasilitas dan proses-proses laboratorium yang dapat disimulasikan secara digital. Pada dasarnya, perangkat lunak ini adalah perangkat lunak animasi dan simulasi yang dapat dikemas dalam keping CD, DVD maupun disajikan pada web-site sebagai web-based application (perangkat lunak yang berjalan pada jaringan internet). Siapapun yang menemukan ide-ide briliannya dalam hal penelitian dan sebagai bisa langsung melakukan sharing mengenai ilmu yang telah didapatkannya, sehingga setiap pengetahuan kita akan selalu terupdate kapanpun. Dimasa mendatang anak-anak sekolah akan menggunakan internet sebagai sarana mereka relajar, namun hal ini tidak terlepas dari banyaknya sisi-sisi negatif yang bisa ditimbulkan, salah satunya yaitu pengajaran seperti menulis dengan pulpen dan pensil, dsb akan banyak ditinggalkan.
Intinya yang perlu ditekankan adalah bagaimana pembelajaran dengan menggunakan teknologi komputer harus merata di seluruh Indonesia, walaupun minimal menggunakannya hanya untuk melihat informasi penting terkait dengan informasi pendidikan yang ada di Indonesia. Selain itu menggunakan media-media teknologi yang ada juga sangat membantu siswa dalam memahami mata pelajaran, misalnya membuat simulasi ilmu fisika, ilmu kimia, dan lain sebaginya, dengan demikian para siswa dapat melihat secara nyata mengenai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada. Manfaat lain adalah siswa merasa tidak jenuh dalam belajar, dan siswa bisa mengembangkan sendiri konsep-konsep yang ada dengan mengembangkan sendiri, maka dengan sendirinya siswa mampu untuk bereksplore. Mengkombinasikan antara materi yang diberikan kepada sehingga akan mengatasi kejenuhan bagi siswa.
Sebagian besar dari kita juga telah mengetahui kelebihan TIK dalam pemanfaatannya dalam pembelajaran. Dari sekian banyak faktor yang terkait, ada 3 hal yang saya ingin titik beratkan pada pemanfaatan TIK sebagai media pembelajaran,diantaranya:[6]
1. Pertama, memaksimalkan segala fasilitas dan teknologi TIK yang ada. Seperti yang kita ketahui penggunaan TIK sebagai media pembelajaran juga sangat memakan biaya yang besar seperti pada pengembangan Jardiknas pada sekolah, universitas, dan institusi. Namun, penggunaan jejaring ini dirasakan belum maksimal, karena hanya beberapa sma, universitas, dan institusi saja yang aktif dalam menggunakan jaringan ini. Penggunaan jejaring ini masih terbatas upaya pemerataan pendidikan seperti video conference antara Universitas Indonesia dengan Universitas Riau. Ide yang ingin dibuat sebenarnya lebih baik pada semacam brainstorming masalah tertentu, jadi keuntungan yang diperoleh dari video conference itu dapat terasa. Tentu video conference ini akan lebih bersifat 2 arah dan lebih dapat terbermanfaatkan. Penggunaan jardiknas sekarang saya anggap sebenarnya masih dapat digantikan dengan pembuatan konten pembelajaran dengan menggunakan media video, suara, dan text. Intinya, penggunaan jardiknas sebagai dapat dimanfaatkan sebagai media yang bisa terbermanfaatkan lebih dari penggunaannya sekarang. Namun hal ini juga harus ada perhatian lebih dari tiap SMA, Universitas, dan institusi yang terkait. Untuk mencapai hal ini, diperlukan sebuah research collaboration dan adanya keinginan knowledge sharing antar masing-masing institusi pendidikan.
2. Kedua, perhatian khusus dan standar pada pembuatan konten pembelajaran. Saat ini pendidikan Indonesia sangat terbantu dengan adanya alat bantu TIK sebagai media pembelajaran. Namun terkesan banyak sekali bahan pembelajaran yang memanfaatkan TIK sebagai media pembelajaran, tapi tidak bisa memanfaatkan kelebihan yang dimiliki oleh TIK bila diterapkan pada media pembelajaran. Media pembelajaran yang dibuat tak ubahnya seperti sebuah buku yang hanya berisi teks, miskin penjelasan, dan hanya dilengkapi dengan background gambar yang mencolok. Hal ini tentu sangat tidak sesuai dengan standar yang ingin dicapai apalabila sebuah media pembelajaran yang dikemas dengan TIK dapat lebih unggul dengan versi tradisional. Setiap pembuat konten pembelajaran harus mampu menguasai tata cara penyampaian sebuah bahan ajar dan mengetahui teknologi sesuai yang dapat digunakan pada pembuatan bahan ajar tersebut. Oleh karena itu, mungkin perlu dibuat juga sebuah standar yang perlu diperhatikan dalam pembuatan media pembelajaran dengan TIK. Selain dapat mengintegrasi seluruh pengetahuan sehingga dapat mendukung kemudahan dalam collaboration namun juga dapat menjadi tolak ukur sebuah media pembelajaran layak atau tidak.
3. Terakhir yaitu membangun pace of learning dari siswa. Pemanfaatan TIK pada pendidikan sangat mendorong terjadinya sebuah proses belajar yang individual khususnya pada domain e-learning. Siswa diharapkan dapat mempunyai semangat untuk membahas sebuah masalah dengan tujuan tertentu, dan memperoleh sendiri solusi dari masalah tersebut. Setiap siswa harus ditanamkan kebutuhan akan pengetahuan sehingga dapat menjadi motivasi internal yang melecut semangat belajar.
[1] Wikipedia, Teknologi Informasi Komunikasi, 2011
<http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_Informasi_Komunikasi> diakses tanggal 18 Januari 2011.
[2] Roma Romansyah, loc.cit.
[3] Nurdin Noni, Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pendidikan, 2010
<http:// blog.unm.ac.id/nurdinnoni/files/2010/04/Modul-1.pdf> diakses tanggal 18 Januari 2011
[4] Yoga Permana Wijaya, Sejarah Pemanfaatan TIK dalam Pendidikan, 2010
<htpp://yogapw.wordpress.com/.../sejarah-pemanfaatan-tik-dalam-pendidikan/> diakses tanggal 18 Januari 2011
[5] Winda Sagita, Perkembangan TIK dalam Pendidikan, 2010
<http://staff.blog.ui.ac.id/harrybs/tag/tik-dalam-pendidikan/> diakses tanggal 18 Januari 2011
[6] Muhammad Haris, Pemanfaatan Teknologi Informasi, 2007
<http://man2cms.blogspot.com/2007/09/pemanfaatan-teknologi-informasi-dan.html> diakses tanggal 18 Januari 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar