MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep apabila mereka bekerja sama dan berdiskusi dengan temannya (Trianto, 2007:41). Nurhadi, dkk (2004:61) mengatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mengasihi antar sesama teman.” Sedangkan Arends (1998 dalam Suharta dan Ardana, 2006:5) menyatakan pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dibentuk dalam suatu kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang, dimana siswa saling bekerja sama dan mengoptimalkan keterlibatan diri dan anggota kelompoknya dalam belajar. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dalam bentuk kelompok-kelompok kecil 4-5 orang, dimana siswa saling bekerja sama untuk memecahkan masalah di kelompoknya masing-masing.
Dalam pembelajaran kooperatif, siswa bekerjasama memecahkan suatu permasalahan melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya dan setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan kelompoknya. Pembelajaran kooperatif mengacu pada pembelajaran dimana siswa bekerjasama dalam kelompok kecil, saling membantu untuk memahami suatu pelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman, serta kegiatan lainnya untuk tujuan membantu siswa satu dengan yang lainnya agar dapat mencapai kesuksesan bersama.
Model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok, ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan belajar kelompok. Anita Lie (2005:31) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
1. Saling ketergantungan positif
Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha masing-masing anggota kelompok. Ketergantungan ini terjadi bila setiap anggota kelompok merasa diperlukan untuk keberhasilan kelompok dan setiap anggota kelompok berusaha memberi kontribusi dalam menyelesaikan tugas kelompok.
2. Tanggung jawab perseorangan
Hal ini merupakan konsekuensi dari unsur yang pertama. Jika tugas dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, maka setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Setiap anggota kelompok memahami bahwa mereka adalah bagian dari kelompok dan semua anggota kelompok berkerja untuk tujuan kelompok.
3. Tatap muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi, saling berbagi, saling membantu, saling mendukung, saling member dorongan, dan saling menghargai. Heterogenitas anggota kelompok akan memberi kekuatan dalam berdiskusi dan berinteraksi. Perbedaan-perbedaan individual dijadikan sumber inspirasi dalam mengembangkan pemahaman.
4. Komunikasi antar-anggota
Siswa perlu dilatih berkomunikasi, sehingga memiliki keterampilan mendengarkan dan berbicara. Keterampilan berkomunikasi ini memerlukan proses yang cukup panjang, namun sangat bermanfaat dalam mengembangkan kecakapan sosial.
5. Evaluasi proses kelompok
Evaluasi dilakukan pada saat siswa bekerja sama atau kerja kelompok. Namun, evaluasi dilakukan tidak perlu setiap kerja kelompok, tetapi dapat dilakukan dalam selang beberapa waktu.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaknya tiga tujuan penting dalam pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Ibrahim dkk, 2000:7). Tujuan pertama pembelajaran kooperatif yaitu peningkatan hasil belajar akademik dicapai kelompok akademik bawah maupun kelompok akademik atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. Siswa kelompok akademik atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok akademik bawah. Tujuan kedua pembelajaran kooperatif adalah memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk saling bergantian satu sama lain atas tugas-tugas bersama dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif. Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah untuk mengajarkan pada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi.
Ibrahim dkk (2000) mengatakan bahwa terdapat 6 (enam) fase dalam pembelajaran kooperatif yaitu menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, menyajikan informasi, mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar, membimbing kelompok bekerja dan belajar, evaluasi dan memberikan penghargaan. Namun, terdapat beberapa langkah-langkah yang sedikit bervariasi tergantung pada pendekatan yang digunakan. Enam tahapan pembelajaran kooperatif dan perilaku guru untuk masing-masing fase ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif
| Fase | Tingkah Laku Guru (Sintaks) |
| Fase I Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa | Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar |
| Fase II Menyajikan informasi | Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan |
| Fase III Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar | Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien |
| Fase IV Membimbing kelompok bekerja dan belajar | Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas |
| Fase V Evaluasi | Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya |
| Fase VI Memberikan penghargaan | Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu atau kelompok |
Arends (1998 dalam Nurhadi dkk, 2004:64-67) mengemukakan bahwa ada empat jenis model pembelajaran kooperatif yang bisa diterapkan oleh guru adalah sebagai berikut.
1. Divisi Tim Siswa Berprestasi (Student Team-Achievment-Division/STAD)
Dalam model ini siswa belajar sebagai sebuah tim dan memberi kontribusi kepada tim lainnya untuk dapat berprestasi secara optimal. Siswa diatur dalam kelompok dengan berkemampuan beragam dan setiap minggu diberikan soal sebagai masalah yang dipecahkan bersama.
2. Gergaji Silang (Jigsaw)
Teknik ini mengisyaratkan setiap anggota kelompok diberi tugas berbeda serta kemudian diharapkan dirinya untuk menceritakan tentang sesuatu yang pernah dipelajari.
3. Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Sama seperti geraji silang, dimana siswa dikelompokkan dan diberi tugas untuk menyelidiki atau menganalisa topik pembelajaran, kemudian siswa menyajikan atau mempresentasikan kepada kelompok lainnya apa yang sudah dianalisis.
4. Metode Struktural
Metode struktural menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Ada struktur yang memiliki tujuan umum (goal) untuk meningkatkan penguasaan isi akademik seperti struktur think-pair-share dan numbered head together dan ada pula struktur yang bertujuan untuk mengajaran keterampilan sosial seperti struktur active listening dan time tokens.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar